CINTA ITU BUKAN UNTUKKU
"Aku sayang kamu" Itu yang aku baca di akun facebooknya Raka, yang di tulis untuk ana, pacarnya. Raka adalah seorang laki-laki yang sudah lama ku kagumi, kita bertemu sekitar 4 bulan yang lalu di sekolahnya.
"Kamu sedang memikirkan sesuatu ya?" Suara Tika membuyarkan lamunanku, "Tidak, hanya..." Jawabku dengan hati-hati. "Hanya apa, hanya memikiran Raka, apa istimewanya Raka, dia sama seperti laki-laki lainnya?" jawab dia panjang lebar. "Kamu tidak bisa melihat istimewanya Raka karena kamu tidak mengenalnya, begitu juga dengan aku yang menganggap putra layaknya laki-laki pada umumnya" Jawabku membela Raka. "Sudahlah, terserah kamu saja saya harus cepat pulang" Jawab Tika terburu-buru. Akupun mengikuti Tika pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah. "Shiela..!!" Teriakan bunda mengagetkanku yang sedang bersiap-siap untuk memeriksakan kesehatanku. "Cepat sedikit sayang" Kata bunda menyuruhku untuk bergegas. "Apakah ini tidak terlalu cepat bunda. bukankah Shiela harus ke dokter 3 hari lagi?" Tanyaku. "Dokter Wina pergi ke Singapore besuk, jadi jadwal periksa kamu di percepat" jawab bunda. Saat perjalanan pun tidak banyak yang bisa di lakukan.
Saat sampai di depan ruangan dokter Wina, tidak banyak pembicaraan yang bisa aku dengar. "Kamu hanya boleh masuk saat bunda memanggilmu atau doktar yang memanggilmu" itu yang selalu di katakan bunda saat di depan ruangan dokter Wina, dan aku tidak pernah berani untuk bertanya mengapa demikian.Pukul 20.00 saat aku, ayah, dan bunda sampai di rumah, begitu sampai di kamar, aku langsung membaringkan tubuh di ranjang, ajakan makan malam bundapun aku hiraukan begitu saja.
Pukul 05.00 aku terbangun dan langsung menunaikan sholat subuh, setelah sholat subuh aku merapaikan kamar, mandi, sarapan dan langsung menuju rumah tika, karena memang hari itu kami akan berjalan-jalan bersama.
Kita berhenti di sebuah toko pakaian, tiba" Tika melihat Raka, dan dia memutuskan untuk menyapanya. "Hai.." sapanya. "Hai, sedang apa disini?" tanya Raka. "Jalan-jalan, di rumah tidak banyak yang bisa di kerjakan" jawab Tika. Saat mereka bercaka-cakap,saya hanya bisa meluhat muka Raka lekat-lekat. Tidak ada sedikitpun garis ketampanan di wajahnya, dia laki-laki yang sederhana, itulah yang membuatku tidak bisa berhenti untuk mengaguminya. "Kenapa kamu diam saja?" tanya Raka membuyarkan lamunanku.
Semua orang terdekatku mengetahui penyakitku, tapi aku selalu merasa baik-baik saja. "Shiela, di makan nasunya sayang, selesai makan dan minum obatnya ya..!" Perintah bunda hanya ku jawab dengan anggukan, aku tidak tahu kapan aku akan berhenti meminum obat-obat ini. Malam ini saya benar-benar meresa lelah, tarakhir yang saya ingat, saya merasakan darah yang keluar dari hidung.
"Shila.. bunda di sini sayang.." suara bunda di tengah isakannya, "Shila kenapa bunda?" tanyaku. "Shila baik-baik saja, shila hanya terlalu lelah saja" jawaban bunda tidak membuatku yakin. Saat waktu minum obat, tiba-tiba tika masuk dan memelukku sambil berkata"Kamu baik-baik saja kan?" pertanyaan Tika tidak ku jawab. "Shiela..?" ada suara di balik pintu, dan itu Raka, aku hanya bisa terdiam. "Shiela.. Aku sayang sama kamu, sembuh demi aku ya?" aku tahu kata-kata itu tidak murni muncul dari hatinya, karena aku tahu dia sangat mencintai pacarnya. "Aku tidak membutuhkan belas kasihanmu, aku tahu kata yang kamu ucapkan hanya untuk mengasihaniku agar aku lebih tegar, agar aku hidup demi kamu, tapi itu tidak akan pernah terjadi" mungkin Tika tidak akan pernah mengira, kata itu akan terucap dari mulutku."Shiela, kenapa kamu berbicara seperti itu?" Jawab TIka kaget. "Aku tahu cinta Raka tidak untukku, aku hanya tidak mau hdup dengan belas kasihannya" jawabku. Dan kata terakhir yang aku ucapkan untuk Raka adalah "Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung"
Aku tahu hidupku takkan lama, aku tahu orang-orang disekitarku ingin membahagiakanku di saat-saat terakhir, tapi bukan itu yang kumau, yang kumau adalah cinta yang tulus, dan bukan untuk rasa belaskasihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar